Keterbatasan Biaya Bukan Halangan Meraih Prestasi



Pengumuman hasil ujian nasional SMA/SMK sederajat beberapa waktu lalu disambut girang sekitar 2,9 juta siswa di Tanah Air. Di antara 20 siswa peraih nilai ujian tertinggi terdapat
anak-anak dari keluarga ekonomi menengah, bahkan ”pas-pasan”. 

Keterbatasan biaya bukan penghalang meraih prestasi gemilang. Berkat kesungguhan dan ketekunan mengikuti pelajaran selama tiga tahun, anak-anak itu telah memiliki modal setahap untuk meretas cita-cita. Setidaknya punya rasa percaya diri bersaing merebut bangku kuliah di kampus idaman. Apalagi, 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menjanjikan bantuan beasiswa kepada 20 siswa SMA/SMK sederajat peraih nilai UN tertinggi. Impian Triawati Octavia (18) untuk menjadi dokter kini terbuka lebar. Anak pasangan pegawai negeri sipil dari Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, ini ditawari beasiswa dari beberapa institusi setelah meraih nilai UN SMA tertinggi se-Indonesia tahun 2012. 
 ”Saya siap ikut seleksi nasional masuk UMPTN untuk membidik Fakultas Kesehatan Masyarakat atau Kedokteran di Universitas Indonesia,” kata peraih nilai UN kumulatif 58,60 ini. Bidang kesehatan dan pelayanan publik menarik minat anak bungsu dari tiga bersaudara ini. Ia terinspirasi sosok ibunya, Uhintawati (52), yang bekerja sebagai bidan. Gadis remaja ini tak pernah berhenti berucap syukur. Ia menyadari gaji dari ayahnya, Syahrul Arifin (54), sebagai pegawai kantor kecamatan berpangkat III/D amat mustahil untuk menutup biaya kuliah kelak. 
 Rasa bangga juga menebal pada diri Novi Wulandari (18), siswa SMA Negeri 2 Lamongan, Jawa Timur, yang meraih nilai UN SMA tertinggi kedua nasional. ”Saya ingin jadi terbaik nasional agar bisa kuliah dan membanggakan orangtua,” ucap Novi dengan mata berkaca-kaca seraya memperlihatkan selembar kertas yang mencantumkan raihan nilai 58,50. Prestasi itu seolah menebus kasih sayang ibunya, Sepi Setyawati (42), yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan upah Rp 500.000 per bulan. Hanya dengan beasiswa ia kelak meraih cita-cita. Biaya kuliah dari penghasilan sang ayah, Mohammad Mustakim (45), sebagai penjaga toko sandal di Pasar Lamongan ibarat langit dan bumi. Upah ayahnya cuma Rp 750.000 per bulan. Novi kini bertekad tembus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga atau Statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember 1945 Surabaya. 

Jalur undangan 
Harapan untuk menggapai cita-cita melalui perguruan tinggi favorit tak hanya milik anak-anak yang berprestasi skala nasional. Untuk prestasi skala lokal pun terbentang lebar, tak terkecuali oleh anak-anak dari kalangan ekonomi lemah. Sebut misalnya Purwaningsih (18). Rasa bangga menjadi lulusan terbaik SMA Negeri 2 Makassar, Sulawesi Selatan, berlipat setelah ia diterima masuk Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui jalur undangan. Putri pasangan Patimbangi dan Siti Rohani itu memeluk erat kedua orangtuanya seusai mengucap syukur. ”Saya yakin dengan giat belajar, menjadi dokter bukanlah hal yang mustahil,” ungkap Purni, sapaan akrabnya. Ayah Purni hanya pedagang kecil di Pusat (Grosir) Butung, Makassar. Sang ibu bekerja sebagai penjahit yang menerima pesanan dari warga sekitar rumahnya di kawasan Tanjung Palette. 
Menurut Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Makassar Herman Hading, sejak kelas X nilai Purni tidak pernah di bawah 8. Herman tak terkejut ketika akhirnya Purni menjadi siswa pertama dari sekolahnya yang diterima di Fakultas Kedokteran Unhas sejak lima tahun terakhir. Kebanggaan juga menyelimuti Andi Noer Aeni Machmud (18). Teman sekelas Purni itu diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian, Bogor, melalui jalur undangan. Hal itu berkat konsistensinya menempati peringkat lima besar sejak kelas X. Aeni telah ditinggal mati sang ayah, Ardin Mahmud, sejak ia duduk di kelas III SD. Ibunya, Normawati, mengajar di SD Negeri Sangir, Makassar. 

Jaminan keberlanjutan 
Janji beasiswa yang dinyatakan Mohammad Nuh melalui pesan singkat dari Jerman, Senin (28/5), ibarat menyiram harapan akan keberlanjutan pendidikan anak-anak yang bekerja keras mengukir prestasi nasional. Pada jenjang SMA, selain Triawati dan Novi, mereka adalah Kadek Devi Ari Frasiska dari SMAN 4 Denpasar, Bali (58,5); Florencia Irena dari SMA Santa Ursula Jakarta (58,45); Anggi Arsandi Apriliyanto dari SMAN 2 Lamongan, Jatim (58,45); Bagas Widyatmaka dari SMAN 1 Ponorogo, Jatim (58,45); Fajrin Pradita Wina dari SMAN 1 Sidoarjo, Jatim (58,45); Doni Arif Gunawan dari SMA Pasundan 1, Jabar (58,45), Putu Ayu Utami Prajawaty dari SMAN 1 Denpasar, Bali (58,3); dan Bhirawa Praditya Bagaskara dari SMAN 4 Denpasar, Bali (58,3). Adapun 10 siswa SMK peraih nilai UN tertinggi nasional masing-masing Mutiarani dari SMKN 2 Semarang, Jateng (nilai UN murni 29,6); Mifta Nurjanah dari SMK Mitar Batik Tasikmalaya, Jabar (29,6); Roni Hadian Akbar dari SMKN 1 Katapang, Jabar (29,6); Neni Yuliantika dari SMKN 7 Bandung, Jabar (29,4); Erlyn Herlina Febrianty dari SMKN 1 Sukabumi, Jabar (29,4); Intan Permatasari dari SMKN 2 Tasikmalaya, Jabar (29,4); Dewi Astutik dari SMKN 1 Purwodadi, Jateng (29,4); Erlita Dyah Utami dari SMKN 1 Purwodadi, Jateng (29,4); Hanindia Hajjar Damayanti dari SMKN 1 Surabaya, Jatim (29,4); dan Annisa Ayuningtias dari SMK Kartika IV-1 Malang, Jatim (29,4). (REK/ACI/RIZ/KOR/LUK)sumber;Kompas.com