SMPN 1 Nagreg Menuju Adiwiyata

Terdorong niat yang tulus untuk menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran akibat pemanasan global, akhirnya kepala sekolah membentuk tim pengembangan sekolah berbudaya lingkungan. Tim tersebut bertugas untuk dapat merealisasikan terciptanya pribadi baru yang memiliki kesadaran dan kepedulian akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup, demi terciptanya sekolah berbudaya lingkungan. Kepala SMP Negeri 1 Nagreg, Dr. H. Aan Rohanda, M.M.Pd. mengungkapkan, Langkah awalnya dilakukan dengan mengetuk hati nurani keluarga besar sekolah, khususnya anggota didik dengan memasang spanduk di setiap tempat
bertuliskan "Menanam adalah Wakaf" dan "Biasakan Menamam Sejuta Pohon". 

Menurutnya "Yang terpenting bagi kami adalah terus berupaya menciptakan generasi muda yang memiliki kepedulian mendalam terhadap pentingnya kelestarian lingkungan hidup. Sebab, di tangan merekalah nasib bumi pertiwi ini kelak. Jika karakter mereka sudah terbentuk, lingkungan hidup akan tetap terjaga sehingga bumi ini selamat dari kehancuran. 

Sebagaimana yang dijelaskan Wakasek Kesiswaan, Muhtar Irawan, S.Pd. bahwa; Untuk memupuk kesadaran peserta didik dalam melestarikan lingkungan sehingga dampak dari budaya lingkungan dapat tertanam kokoh di hati sanubarinya masing-masing, dalam hal ini pihak sekolah telah menerapkan pendidikan lingkungan hidup melalui kurikulum muatan lokal (mulok) monolitik berupa mata pelajaran khusus pendidikan lingkungan hidup (PLH) yang teritegrasi pada setiap mata pelajaran. 

Tampaknya, sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Nagreg KM 37, Kampung Gamblung, Desa/Kec. Nagreg, Kab. Bandung itu tidak mau main-main dalam menerapkan program untuk memupuk kesadaran berwawasan lingkungan. "Dalam hal ini, kami tidak hanya menerapkan mata pelajaran khusus dalam hal pendidikan lingkungan hidup, melainkan juga senantiasa diterapkan pada setiap mata pelajaran atau senantiasa diintegrasikan pada setiap mata pelajaran. Tegasnya, materi apapun yang disampaikan pada setiap mata pelajaran, isinya harus ada kaitan dengan lingkungan hidup. Dengan harapan, kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup cepat tertanam di masing-masing peserta didik," imbuhnya. 

Setelah menanamkan kesadaran lewat teori, selanjutnya pihak sekolah juga mengarahkan peserta didik lewat praktik di lapangan melalui gerakan menanam pohon khususnya di lingkungan sekolah. Tanpa diduga sebelumnya, program gerakan menanam pohon di lingkungan sekolah itu mendapat respon berbagai pihak. Tak hanya para orangtua murid melainkan juga instansi lain. Terlebih, sekolah yang dirintis pada tahun 1983 itu senantiasa menjalin kemitraan dengan lintas instansi. Tanpa harus menyebar profosal, para dermawan yang menyalurkan aneka tanaman pun pada berdatangan. Mereka tidak hanya menyumbangkan jenis tanaman keras, melainkan juga tanaman perdu hias, tanaman hias, dan obat keluarga (toga). 

Lewat gerakan menaman itu, nyaris tak ada sejengkalpun lahan di lingkungan SMP Negeri 1 Nagreg yang dibiarkan tidur. Dengan demikian tempat menggali ilmu para calon intelektual tersebut tak ubahnya seperti hutan lindung atau ruang terbuka hijau (RTH). Sebab, di sela-sela bangunan ditumbuhi pepohonan rindang. 

Ternyata, pemandangan istimewa itu menarik perhatian pihak luar, tak terkecuali Kapolsek Nagreg. Bahkan, kapolsek menyarankan agar SMP Negeri 1 Nagreg diikutsertakan dalam lomba sekolah berbudaya lingkungan. Tanpa disangka sebelumnya, sekolah tersebut berhasil menyandang gelar juara pada lomba sekolah berbudaya lingkungan tingkat kabupaten pada 2011 lalu. "Sejak saat itu, sekolah kami selalu aktif mengikuti berbagai program penghijauan atau penanaman sejuta pohon seperti di kawasan Lingkar Nagreg dan Cibodas, serta penanaman kayu jabon di tanah carik Desa Bojong. 

Terlepas dari itu, supaya lingkungan sekolah tetap terjaga, kami juga melakukan perawatan secara terprogram dan terjadwal. Seluruh peserta didik tetap dilibatkan untuk merawat tanaman seperti penyiraman dan pemupukan. Bahkan, pihak sekolah juga menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai salah satu sanksi yang dijatuhkan jika ada siswa yang melanggar peraturan," jelas Muhtar. 

Satu hal yang patut dibanggakan, salah satu slogan yang senantiasa diterapkan di sekolah ini adalah menganjurkan peserta didik untuk terus menanam pohon. Kalimat penyentuh yang senantiasa diungkapkan pihak sekolah itu salah satunya tanamlah sejuta pohon, jika tidak mampu sejuta, seratus pohon. Jika masih tidak mampu, sepuluh pohon. Jika tetap tidak mampu, satu pohon saja sudah lebih dari cukup, asalkan seluruh siswa bersedia menanamnya. 

Sementara itu Kepala SMPN 1 Nagreg, Drs.H.Aan Rohanda M.MPd. tentu berharap sekolah ini dapat meraih adiwiyata, mudah-mudahan katanya. 

Sumber :klik galamedia 
Penulis :ayep setiadji/"GM" 
Editor :wani sailan.