Sosiolog : Pendidikan Indonesia Monoton dan Menindas

Pendidikan di Indonesia masih monoton dan menindas. Hal tersebut dikemukakan oleh Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Imam B Prasodjo, dalam diskusi publik bertema "Nasionalisme & Masa Depan Pendidikan Kita" yang diadakan MAARIF Institute, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta.. 


Dosen Sosiologi UI itu menyatakan, para pengajar kita telah kehilangan ruh dalam mendidik anak bangsa. Pendidikan yang seharusnya menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia, terlanjur masuk dalam sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada pengetahuan jangka pendek yang sifatnya hanya sementara. "Pendidikan kita itu tak perlu detail. Ini dari dulu kita belajar teori bab per bab itu kan menindas. Membosankan. Para pengajar kita seharusnya lebih kreatif mengatur semua itu," ucap Imam. 

Menyusul persiapan perubahan kurikulum pendidikan nasional untuk tahun ajaran mendatang, dia menyampaikan metode pendidikan harus mengedepankan pembentukan karakter siswa. Jika metodologi yang digunakan sekarang dipertahankan, Imam yakin, pendidikan di Indonesia tak akan maju. Imam memaparkan, fungsi pendidikan Indonesia perlu dikembalikan lagi. Seperti mengutip fungsi pendidikan yang diuraikan UNESCO, menurutnya, pendidikan di Indonesia harus mengedepankan fungsi learning to know, learning to be, learning to do, dan learning to live together. "Pendidikan kita itu masih sangat elementer. Seperti sebuah imaji yang monoton, ini menggambarkan kegagalan pendidikan kita, sebab kita baru sekadar learning to know. Padahal kita tidak berhenti pada ranah itu saja kalau pendidikan kita ingin dianggap memajukan," tuturnya. 

Learning to be, pembelajaran ini lebih mengarahkan keinginan siswa untuk menjadi seseorang, sesuai cita-citanya. Dengan menyampaikan peran-peran seseorang itu, anak-anak memilih dirinya akan menjadi sosok yang dicita-citakannya. Jika sudah mencapai itu, learning to do akan mengarahkan siswa untuk tidak hanya belajar menjadi apa dan siapa, tetapi melakukan strategi mendalam dan mempelajari peran dan fungsinya di masyarakat atau learning to live together sesuai dengan karakter yang dimilikinya. 

Dia menambahkan, jika keempat hal tersebut masuk ke dalam pendidikan kita, anak-anak tidak lagi sekadar belajar berhitung dan membaca, tetapi juga belajar menemukan karakternya. "Misal, dompet saya jatuh, kemudian seorang anak menemukannya. Anak itu bisa berhitung dan tahu, ada berapa sih uang rupiah di dompet saya? Mereka tahu jumlahnya karena mereka belajar berhitung, tetapi belum tentu mereka berpikir akan melakukan apa, mengembalikan kepada siapa untuk dompet dan uang yang ditemukannya itu," tutur Imam. 

 "Karena itu, bukan cuma moral knowing yang perlu kita ketahui bersama, tetapi harus didukung juga dengan moral feeling/empaty, biar merasakan apa yang dirasakan seseorang saat kehilangan dompet, seperti pada kasus di atas tadi. Dan baru kemudian ada yang disebut moral action, yaitu ada tindakan yang harus dilakukan pada saat itu juga," jelasnya lagi. 

Penulis : Caroline Damanik
Editor  :Wani Sailan.