PSSI Sengaja Khianati MoU, Demi Langgengkan Kekuasaan

Sanksi FIFA untuk PSSI tampaknya tak terhindarkan setelah dua pihak yang berseteru, PSSI dan KPSI bersikeras menggelar kongres masing-masing. Pada 7 Juni lalu, kedua belah pihak telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di hadapan AFC dan FIFA. 

Salah satu poin terpenting adalah penyelenggaraan satu kongres yang dihadiri kedua belah pihak dengan anggota mengacu pada Kongres Luar Biasa Solo 2011 lalu. Dalam MoU juga disepakati bahwa masing-masing pihak akan mengirimkan empat perwakilan untuk membentuk Joint Committee. Tugas JC adalah merumuskan solusi konflik, termasuk persiapan kongres. 

Pada perkembangannya, kubu PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin menghianati kesepakatan tersebut dan bersikeras menggelar kongres yang dengan anggota yang mengacu pada Kongres Palangkaraya bulan Maret 2012 lalu. 

Merasa tak sesuai kesepakatan, kubu KPSI menolak dan berniat menggelar kongres sendiri yang sesuai dengan isi MoU. FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia memberikan tenggat waktu hingga 10 Desember untuk menyelesaikan kongres sekaligus menyelesaikan konflik yang sudah menahun. Jika tidak, kasus ini akan dibawa ke rapat Komite Eksekutif FIFA untuk pertimbangan pemberian hukuman. 

Saat ditanya mengenai konflik yang tetap tak menemui titik terang, Ketua Joint Committee PSSI Saut Sirait mengakui kinerja forum yang dipimpinnya untuk mendamaikan PSSI memang telah gagal. Jika sanksi itu jatuh, pria yang juga menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu mengaku tak bisa melakukan apa-apa lagi. "Biar saja semuanya juga jagoan kan?" ujar Saut saat dihubungi INILAH.COM, Sabtu (8/12/2012). 

Saut mengakui sebetulnya PSSI bisa terhindar dari sanksi FIFA seandainya ada salah satu pihak yang mengalah dan mengakui isi nota kesepahaman (MoU) yan telah ditandatangani kedua belah pihak di Kuala Lumpur, Malaysia. Saut, yang menjadi Ketua JC menggantikan Todung Mulya Lubis, malah mengaku heran dengan kedua belah pihak yang sama-sama ngotot dan memperdebatkan isi MoU itu. Padahal, kata pria yang juga berprofesi sebagi pendeta itu, sebetulnya sejak Juni MoU itu sudah merekomendasikan pelaksanaan kongres bersama. Hanya masalah waktu dan tempat saja yang belum ditentukan. 

Karena itulah Saut mengungkapkan keheranannya dengan sikap kedua belah pihak yang tak juga menemukan kata sepakat. Padahal rapat-rapatnya digelar di beberapa hotel mewah, bahkan sampai rapat di Malaysia. "Konyol kan? Seolah-olah penting kali JC itu. Ngapain JC itu sampai jauh-jauh ke Jenewa mengadukan masalah ini. Padahal ini kan simpel," selorohnya. "Kita ini orang kecil inginnya konflik ini berhenti, tapi bagaimana lagi," seloroh Saut memungkasi. 

Meski dalam MoU yang ditandatangani kedua belah pihak dan disaksikan perwakilan dari AFC dan FIFA jelas disebutkan bahwa PSSI harus menggelar kongres mengacu pada peserta Kongres Solo, Namun PSSI tetap bersikeras menggelar kongres dengan mengacu pada peserta Kongres Palangkaraya, Maret 2012. 

Perbedaan krusial terdapat dalam daftar peserta KLB Solo yang memenangkan Djohar sebagai ketua umum PSSI dengan Kongres Palangkaraya yang digelar Maret 2012, setelah Djohar terpilih. Mayoritas peserta Solo pada kemudian hari merasa tak puas dengan kinerja Djohar dan berbalik memberikan mosi tidak percaya. Mereka kemudian dipecat oleh ketua yang mereka pilih dan digantikan orang-orang yang tetap mendukung Djohar. Orang-orang pengganti inilah yang menjadi peserta kongres Palangkaraya. 

PSSI khawatir jika kongres tetap menggunakan daftar peserta Solo, karena orang-orang yang tidak puas dengan kinerja Djohar mendapat fasilitas untuk menjatuhkan sang ketua dari kedudukannya saat ini.[yob] 

Sumber  : Inilah.
Editor    : Sailan