Angie Divonis Ringan, ICW Kecewa.

Angelina Sondakh langsung memeluk ayahnya, Lucky Sondakh, sambil menangis haru di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, kemarin. Puteri Indonesia 2001 ini mengaku bersyukur atas vonis ringan dari majelis hakim yang hanya menghukumnya 4,5 tahun penjara. 

Angie, sapaan akrab Angelina Sondakh, memang pantas lega karena putusan hakim tersebut jauh dari tuntutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menuntutnya dengan 12 tahun penjara. “Untuk vonis hari ini alhamdulillah bersyukur kepada Tuhan bahwa yang dituntut dari saya Pasal 12, (tapi) memvonis saya dengan Pasal 11 dan hak anak-anak saya bahwa Aaliya, Zahwa dan Keanu dalam putusan tidak dirampas. 

Saya bersyukur majelis hakim mempertimbangkan pleidoi saya tentang anak-anak saya. Jadi bagaimana sekarang anak anak saya tetap punya ahli waris,”ujar Angie yang banyak mengumbar senyum dalam jumpa pers usai persidangan. Meski dihukum lebih ringan dari tuntutan jaksa, Angie mengaku merasa bersalah terhadap orang tuanya.

“Jadi menurut saya bapak saya juga merasa berat, saya merasa, mengapa harus jadi beban saat orang tua saya berusia tua. Karena Keanu sekarang juga bergantung pada orang tua saya, dan ekonomi saya juga bergantung pada gaji orang tua, padahal seharusnya itu jadi tanggung jawab saya.Tapi saya bersyukur hakim mendengar pleidoi saya dengan memutus seperti yang teman-teman sudah dengar,”ujarnya. 

Angie akan menjalani masa tahanannya dengan berbagi dengan tahanan lain. Dia berharap kehadirannya di Rutan Pondok Bambu dapat memberikan manfaat bagi teman-teman satu rutan. Mendengar pernyataan Angie itu Lucky Sondakh tampak terharu dan menghela nafas panjang. Kemudian Lucky menyampaikan bahwa vonis itu membuatnya bersemangat lagi menghadapi hidup. 

“Meskipun belum the best, tapi di republik ini hakim masih memberikan kelegaan-kelegaan. Tapi this is not the end of the game, apakah jaksa mau naik banding atau tidak, kita harus bersiap untuk setiap (kemungkinan) itu. She (Angie) perform intelligently,penuh ketabahan dan tidak dipengaruhi emosi, ada kemampuan untuk memaafkan dan tidak ada dendam, ”ungkap Lucky. 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhi hukuman 4 tahun 6 bulan penjara terhadap terdakwa Angie karena terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp2,580 miliar dan USD1,2 juta atas kesanggupannya menggiring anggaran proyek di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) untuk memenangkan PT Group Permai. 

Angie, yang tiba sekitar pukul 12.50 WIB, itu pun tampak cantik menggunakan kemeja putih dipadu celana panjang warna krem. Sidang pembacaan vonis Angie yang dimulai pukul 15.00 WIB sempat mundur sekitar dua jam lebih dari jadwal yang ditentukan. Dalam mendengarkan amar keputusan, Angie duduk takzim di kursi khusus terdakwa. Angie nyaris tidak banyak bergerak. 

Saat mendengarkan pembacaan amar putusan, Angie lebih banyak tertunduk dengan takzim. Sesekali mantan Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat itu memperbaiki posisi duduknya. Saat pembacaan terkait unsur menerima suap oleh majelis hakim, Angie menatap hakim dengan mimik serius. Tak berselang lama, Angie kembali tertunduk. Selain itu istri almarhum Adjie Massaid itu sesekali menyentuh jari-jarinya. 

Ketua majelis hakim Sudjatmiko menyatakan, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara berlanjut sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. 

Hal itu sebagaimana tertuang dalam dakwaan ketiga. “Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun dan 6 bulan dan denda Rp250 juta, yang tidak bisa dibayar ganti dengan hukuman 6 bulan kurungan penjara. Menetapkan terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp10 ribu,” ungkap Sudjatmiko. 

Majelis hakim menolak penggunaan Pasal 12 dan 18 seperti dalam tuntutan jaksa. Sebelumnya jaksa dari KPK menuntut terdakwa kasus dugaan korupsi di Kemendiknas dan Kemenpora tersebut dengan hukuman 12 tahun, denda Rp500 juta, dan subsider enam bulan kurungan (lihat grafis).  Namun, dalam persidangan kemarin dakwaan dan tuntutan jaksa yang menyebutkan bahwa Angie menerima Rp12,580 miliar dan USD2,350 juta tidak terbukti. 

Pada sidang kemarin tampak hadir mantan istri almarhum Adjie Massaid yang lain, penyanyi Reza Artamevia. Selama sidang berlangsung Reza terlihat serius menyimak pembacaan amar putusan. Saat bertemu Angie sebelum sidang Reza hadir dengan keluarga serta kedua anaknya, Zahwa dan Aaliya. justru Anak kandung Angie, Keanu, dan pacar Angie, Brotoseno tidak terlihat. 

Juru Bicara KPK Johan Budi SP belum bisa berkomentar banyak atas putusan hakim untuk Angie. “Terhadap putusan ini kami, KPK, akan mempelajarinya dulu. Kita masih punya waktu untuk menyatakan banding atau tidak,” kata Johan kemarin. Meski vonisnya ringan, kata Johan, bagaimana pun Angie tetap terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan menerima suap. Dia menyatakan bahwa KPK bisa mengembangkan kasus ini karena ada bukti Angie menerima suap. 

Sebaliknya, Indonesia Corruption Watch (ICW) menyayangkan vonis ringan untuk Angie. “Disayangkan saja putusannya hanya 4,5 tahun, jauh dari tuntutan jaksa sebelumnya, yakni 12 tahun kurungan penjara serta termasuk unsur-unsur yang didakwakan,” kata Koordinator Korupsi Politik ICW Abdullah Dahlan. 

Dia menilai seharusnya vonis yang dijatuhkan lebih berat dan tidak jauh dari selisih yang didakwakan. “Sanksi itu kan harus memberikan efek jera, terutama untuk para koruptor. Tapi, apa yang kita lihat tadi Angie justru terlihat happy menerima vonis tersebut,” keluhnya. 

Dia menyatakan ICW kecewa atas vonis hakim tersebut. “Ini bukan hukuman, tapi kemenangan pelaku yang jelas-jelas terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi melalui proses peradilan,”katanya. 

Menurut Abdullah, majelis hakim seharusnya memberi hukuman yang menimbulkan efek jera serta tidak melibatkan atribut-atribut pejabat publik yang disandangnya. “Jangan jadikan duta-duta yang disandangnya sebagai faktor untuk memperingan hukuman. Seharusnya diberikan hukuman yang setimpal sebagai pejabat publik,”katanya. Dia menilai potensi korupsi akan terulang kembali jika melihat fakta persidangan tersebut. “ Harus ada sanksi tegas agar setidaknya ada ketakutan bagi mereka yang ingin melakukan tindakan serupa,”katanya. 

Pengamat hukum dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Refly Harun, menilai kecenderungan hakim di Indonesia saat ini tidak memberikan hukuman maksimal bagi pelaku korupsi sehingga tidak ada efek jera bagi koruptor. Peneliti dari Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Hifdzil Alim memiliki pandangan berbeda.

Menurutnya, dibatalkannya Pasal 12 dan 18 sesuai tuntutan jaksa harusnya menjadi kritik bagi jaksa. Dia berpandangan, jangan-jangan jaksa KPK kurang cermat menyusun konstruksi Pasal 18, sehingga uang yang diduga hasil korupsi itu tidak bisa dibuktikan. ● sabir laluhu

Editor   : Wani Sailan.