Tahun Ajaran Baru Para Siswa Akan Belajar Budaya Daerahnya Sendiri.

Rencananya pada tahun ajaran 2013/2014, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung akan memasukkan kurikulum Sejarah dan Budaya Kabupaten Bandung. Kurikulum itu akan disisipkan pada muatan lokal yang selama ini sudah ada. 

Kepala Disdikbud Kabupaten Bandung, Juhana mengatakan, dimasukkannya kurikulum itu karena siswa yang ada sekarang ini lebih mudah mempelajari bahasa Inggris dibandingkan bahasa Sunda, yang nobene bahasa Ibu. 

Kurikulum ini nantinya akan  disisipkan pada saat pelajaran bahasa Sunda selama dua jam dalam satu pekan. yaitu; satu jam pelajaran digunakan untuk bahasa Sunda, dan satu jam pelajaran lagi khusus budaya lokal,yaitu budaya Kabupaten bandung. 

Pelajaran ini akan diberlakukan pada tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. dan "Perangkat kurikulum sudah ada. Seperti kompetensi inti dan silabus. Bahan ajaran yang akan dibahas, Tinggal menunggu Peraturan Bupati (PERBUP). 

Target kami tahun ajaran baru 2013/2014 ini bisa dipakai untuk pelajaran disekolah-sekolah yang sudah ditentukan," ujarnya.

Beberapa pemerhati pendidikan dan guru mengatakan, dengan adanya rencana Dikbud  Kabupaten Bandung akan memasukkan pelajaran Sejarah dan Budaya Daerah Kabupaten kedalam muatan lokal bahasa sunda sangat disetujui, minimal ini akan menumbuhkembangkan para pelajar kita untuk mencintai budayanya sendiri, sekaligus mereka dapat mengenal budaya daerah kabupaten Bandung, yaitu daerahnya sendiri.

Sementara Prof. Dadang Supardan mengatakan, kebijakan pemberlakuan mulok sejarah dan budaya merupakan terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Karena, ketika pusat masih menggodok kurikulum 2013, Disdikbud Kab. Bandung sudah mendahuluinya.

Menurutnya, kurikulum mulok sejarah dan budaya berkaitan erat dengan eksistensi sebuah bangsa. Sedikitnya ada lima filosofi yang bisa mengangkat eksistensi bangsa, yaitu identitas, keterhubungan dengan bangsa lain, keterakaran dengan histori atau sejarah dari bangsa itu sendiri, dan tidak melepaskan diri dari kodratnya, serta orientasi nilai atau tujuan yang hendak dicapai.

Secara khusus tujuan mempelajari sejarah lokal, di antaranya untuk memahami dan menghargai nilai sejarah sosial, budaya, serta politik yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya dengan keunikan potensi daerah yang dimiliki.

Editor  : Wani Sailan.