Masalah PKS Hanya Sedikit Pengaruhnya Terhadap Saya


Sebulan menjelang pemilihan gubernur Jawa Barat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diterpa kasus korupsi. Suap impor daging sapi. Kasus ini menikam jantung partai itu. 

Presiden Luthfi Hasan Ishaaq digiring ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia Langsung ditahan. Kasus ini juga diduga melibatkan Ridwan Hakim, putera Ustad Hilmi, Ketua Dewan Syuro partai itu. (Baca: Anak Ustad Hilmi Dicegah Keluar Negeri) Suap sapi itu menurunkan popularitas PKS. Tingkat elektabilitasnya di sejumlah survei menurun tajam. Banyak yang meramalkan nasib partai itu bakal terpuruk dalam Pemilu 2014. 

Di tengah suasana yang kurang menguntungkan itulah, Ahmad Heryawan maju diusung PKS dalam Pemilukada Jawa Barat. Calon incumbent ini mengandeng Dedy Mizwar, seorang artis senior sebagai calon wakil gubernur. 

Banyak pengamat memperkirakan bahwa prahara yang merundung petinggi PKS itu bakal "menenggelamkan" peluang Ahmad Herwayan di Pemilukada. Jajak pendapat lembaga survei juga memberi kabar buruk. Lingkaran Survei Indonesia Network (LSIN) menemukan bahwa Ahmad Heryawan meraih 21,6 persen, terpaut cukup jauh di bawah pasangan Dede Yusuf dan Lex Laksamana yang meraup 29,1 persen. (Baca: Dede Yusuf Unggul di Jabar). 

Pemilukada itu di gelar Minggu 24 Februari 2013. Dan hasil quick count sejumlah lembaga survei justru memberi kabar gembira. Ahmad Heryawan mengungguli pasangan lain. Membuntut ketat di belakanganya adalah pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang diusung PDI Perjuangan. Quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ahmad Heryawan unggul dengan 33,14 persen dengan margin of eror +-1. Ini memang bukan hitungan resmi. Sebab hitungan resmi itu dilakukan KPUD Jawa Barat. 

Kasus yang menguncang PKS, kata Ahmad Heryawan, memang mempengaruhi perolehan suaranya, tapi tidak signifikan. Sebab rakyat Jawa Barat, lanjutnya, sudah cerdas dalam menentukan pilihan. 

Lahir di Sukabumi Jawa Barat 19 Juni 1966, Ahmad Heryawan menuntaskan pendidikan SD hingga SMA di Sukabumi. Tingkat sarjana diselesaikan di Fakultas Tarbiyah LIPIA tahun 1992. Tamat kuliah dia menjadi mubalig dan dosen di sejumlah perguruan tinggi. Memulai karir politik di Jakarta. Tahun 1999 dia menjadi anggota DPRD DKI. Jalan politik tampaknya lempang. Berpasangan dengan Dede Yusuf dia menang Pemilukada Jawa Barat periode 2008-2013. 

Usai menyaksikan hasil hitung cepat bersama para pendukungnya di Hotel Papandayan, Bandung, Minggu 24 Februari 2013, Aher memberi kesempatan VIVAnews untuk mewawancarainya secara khusus. Berikut petikannya: 

Anda unggul dalam hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei. Bagaimana dengan hasil hitungan PKS sendiri? 

Alhamdulillah, semua survei menempatkan kami di urutan teratas dengan margin error 0,9-1,0 persen. Berdasar pengalaman survei-survei Pilkada sebelumnya terkait perhitungan cepat yang sudah kita sama-sama ketahui, insya Allah hasil akhir real count-nya tidak berbeda jauh dengan quick count. Hitungan internal kami hasilnya tidak berbeda jauh dengan survei lain, namun margin error-nya 0,3 persen. Kami memperoleh 33,1 persen, sementara di urutan kedua (pasangan Rieke dan Teten-red) memperoleh 27,9 persen. 

Meski demikian, kami tentu tetap menunggu hasil penghitungan akhir di KPUD. Meski belum final, atas hasil ini kami wajib berterima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hak pilihnya. Selain itu, warga Jawa Barat menunjukkan kedewasaannya dalam berdemokrasi. Pilgub berlangsung aman dan damai, tidak ada kejadian yang berarti selama hari pencoblosan. Kami juga berterima kasih kepada Polri dan TNI, serta seluruh pihak yang langsung maupun tidak langsung telah berpartisipasi menjaga Pilgub ini. Pilgub Jabar bisa menjadi contoh bagi Pilkada-Pilkada selanjutnya, termasuk di provinsi lain. 

Dari hasil hitung cepat ini, Anda hanya unggul tipis dari calon lain. Dibawah perolehan Anda pada Pemilukada sebelumnya. Apakah ada korelasi dengan kasus PKS? 

Saya rasa ada sedikit. Masyarakat Jawa Barat sudah sangat cerdas. Mereka memilih saya sebagai gubernur, bukan melihat saya sebagai kader partai. Masyarakat memahami permasalahan internal partai tidak berhubungan dengan saya sebagai calon gubernur. Antara figur gubernur dengan partai itu terpisah. Permasalahan internal partai hanya berpengaruh sedikit dalam pencalonan saya. 

Tapi banyak pihak yang memprediksi kasus Luthfi Hasan akan menjatuhkan suara Anda. Anda juga sempat merasa begitu? 

Tidak, kejadian itu muncul di hari hari akhir menjelang pemilihan. Itu semua tidak diprediksi karena muncul tiba-tiba. Dari awal saya dan tim coba bekerja sebaik mungkin untuk mendapat simpati masyarakat. Ini yang menjadikan saya dan Kang Deddy tidak terpengaruh isu internal PKS. 

Berarti Anda sudah memprediksi bakal unggul? 

Tidak ada prediksi khusus. Selama ini, saya sebagai Gubernur terus bekerja saja melayani warga. Kerja dan kerja, itu saja. Saya mengawal program pendidikan, ke sekolah-sekolah. Di sana saya berdialog dengan para guru dan anak didik. Juga meninjau pembangunan ruang kelas baru (RKB) dan lain-lain. Begitu pula di bidang kesehatan. Saya menemui para kader Posyandu. Melihat langsung aktivitas di Puskesmas. Di bidang insfrastruktur, saya berkeliling melihat langsung kondisi jalan. Saya mengawal penyelesaian pembangunan jalan. 

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, saya meresmikan beberapa ruas jalan. Saya juga meresmikan pembangunan awal ruas jalan di beberapa daerah. Ketika kampanye, saya menemui warga untuk berdialog dan menyampaikan pencapaian selama memimpin Jabar. Pada saat yang sama, saya mensosialisasikan visi-misi untuk Jabar lima tahun ke depan. Itu saja. Tidak ada prediksi khusus apakah bakal memenangi Pilgub. Tapi saya selalu optimistis atas apa yang dikerjakan. 

Bukankah kita harus selalu optimistis? Padahal dari hasil survei sebelum pencoblosan elektabilitas Anda turun. 

Memang beberapa survei menyebutkan pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar di urutan dua atau tiga dari segi elektabilitas. Ketika itu, saya santai saja. Tapi, saya dan tim tidak mengabaikan survei tersebut. Kami bekerja saja. Jadi, tidak terganggu, namun juga tidak mengabaikan survei-survei yang menyatakan kami kemungkinan kalah. 

Begitu. Anda juga diterpa sejumlah kampanye negatif menjelang pencoblosan, bagaimana Anda menyikapinya? 

Sejak awal, kami mengedepankan politik santun dan sportif. Saya pribadi selalu berupaya memelopori upaya membangun demokrasi yang sehat. Demokrasi sehat itu kita perlukan untuk membangun Jabar lebih baik ke depan. Kita perlu membimbing masyarakat untuk menghidupkan demokrasi yang dewasa, fair di antara para kandidat. Oleh karena itu, saya pagi-pagi menginstruksikan kepada tim sukses untuk tidak membalas black campaign yang menerpa diri saya. Kami cuma berusaha mengimbau agar para pelaku kampanye hitam menghentikan kegiatannya itu karena sama sekali tidak mendidik masyarakat. 

Memang, black campaign itu sungguh menyakitkan. Saya sakit karena isi kampanye hitam itu sama sekali tanpa dasar, tidak ada faktanya. Mudah-mudahan cara berdemokrasi seperti itu dapat terkikis di Jabar di hari-hari ke depan. Soalnya, sama sekali tidak sehat, tidak mendidik. 

Apa sesungguhnya kelebihan Anda dibanding kandidat lain? 

Saya kira karena masyarakat Jabar merasakan kerja pembangunan di berbagai bidang oleh Pemprov hingga unsur terbawah pemerintahan daerah. Warga merasakan hasil kerja Gubernur hingga kepala desa. Selain itu, ada kehadiran pemimpin di tengah masyarakat. Saya selalu berusaha berada di tengah warga, mendengar perasaan dan keinginan mereka. Insya Allah, ke depan, saya dengan Kang Deddy Mizwar berupaya untuk tetap dekat dan terus melayani warga. 

Kalau faktor Kang Deddy? 

Dia kan artis terkenal. Ini hasil kerja keras bersama. Tentu Kang Deddy Mizwar juga berpengaruh. Beliau bukan sekadar artis, tetapi budayawan yang hasil kerjanya jelas. Beliau juga berprestasi di bidangnya. Beliau dikenal religius. Tentu semua ini berpengaruh. 

Wilayah mana saja yang membawa suara Anda unggul dibanding kandidat lain? 

Hasil detail belum saya terima. Namun, informasi awal, hampir semua kabupaten/kota menyumbang kemenangan kami. Pasangan Aher-Deddy Mizwar hanya kalah di satu wilayah. Kalau tidak salah di Kota Bogor. Ini hasil kerja keras semua komponen. Ini kemenangan warga Jabar, kemenangan kita semua, kemenangan Indonesia. 

Pakai strategi apa untuk mengungguli lawan-lawan Anda? 

Tidak ada strategi khusus selain saya bekerja sebaik-baiknya. Hingga hari ini, saya tetap fokus pada program pembangunan yang telah dicanangkan. Program pendidikan, kesehatan, pertanian, pembangunan infrastruktur, pembukaan lapangan kerja melalui upaya menjaga iklim investasi yang sehat dan lain-lain. 

Sambil menunggu hasil penghitungan resmi keluar, apa yang akan Anda lakukan? 

Sampai hari saya selain cagub kan juga sebagai Gubernur. Sampai detik ini saya masih menjalankan tanggung jawab sebagai Gubernur. Terakhir saya tetap concern pada upaya menjaga dan menyukseskan Pilgub. Kerja pemerintahan lain tetap saya kawal. Senin besok, tugas-tugas sebagai Gubernur tetap saya kerjakan. Itu semua tanggung jawab. Saya tetap terus melayani warga. Tidak ada yang berhenti karena Pilgub ini.

Editor : W.Sailan