Pertaruhan Terakhir PSSI


SECERCAH asa bahwa kemelut persepakbolaan nasional akan berakhir akhirnya tiba. Lewat Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Hotel Borobudur, Jakarta, besok, perseteruan yang sudah lebih dari dua tahun dipamerkan para elite sepak bola nasional diharapkan luruh dalam rekonsiliasi. 

Sepak bola di Tanah Air sudah lama menderita sakit kronis. Sakit akibat ulah memuakkan para elite yang mabuk kekuasaan, terbius oleh egoisme, serta mendewakan kepentingan pribadi dan kelompok. 

Sepak bola nasional kian sepi prestasi, tetapi semakin ramai oleh konflik antara kubu PSSI di bawah Ketua Umum Djohar Arifin Husin dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) di bawah komando La Nyala Mattalitti. Kedua kubu surplus energi negatif, kelebihan nafsu untuk berseteru. Amat sulit dipersatukan bak minyak dan air. 

Di telinga kedua kubu, jeritan publik agar mereka berdamai ibarat nyanyian merdu yang mengasyikkan. Perintah FIFA agar mereka bersatu beberapa kali diabaikan. Saking parahnya perseteruan, kompetisi terbelah, PSSI terbelah, timnas terbelah, suporter terbelah. 

Sepak bola nasional benar-benar terjerembap. Peringkat Indonesia di FIFA pun terus memburuk. Pada Maret ini, PSSI terpuruk di posisi 166, kalah jauh ketimbang Vietnam (129), Thailand (135), dan Filipina (145). 

KLB PSSI Minggu (17/3) merupakan pertaruhan terakhir apakah para elite masih punya secuil nurani untuk menyelamatkan persepakbolaan nasional. Rekonsiliasi mutlak direalisasikan karena itulah harga mati yang ditawarkan FIFA jika Indonesia tak ingin dikucilkan di kancah internasional. 

Untuk sementara kita lega lantaran Djohar Arifin dan La Nyala yang selama ini selalu bersepakat untuk tidak sepakat kini sepakat untuk rujuk. Kita berharap kesepakatan itu tulus demi menyelamatkan Indonesia dari sanksi FIFA. Bukan demi mengamankan kepentingan masing-masing. Tanpa ketulusan, perdamaian cuma indah di permukaan, tetapi sebenarnya semu dan menyimpan bom waktu. 

Apalagi, jalan menuju KLB tidaklah mulus. Sejumlah korban berjatuhan di kalangan orang dekat Djohar. La Nyala, misalnya, menuntut pemecatan Sekjen PSSI Halim Mahfudz dan tuntutan itu diiakan Djohar. Pelatih Nilmaizar yang begitu gigih memimpin skuat 'Merah Putih' di tengah keterbatasan dan pembangkangan klub-klub ISL disingkirkan pula. KLB juga terancam oleh pemaksaan penambahan agenda oleh kubu La Nyala untuk menetapkan waktu, tempat, dan agenda kongres biasa. 

Ironisnya, pemaksaan itu diamini Djohar dan didukung Menpora Roy Suryo. Padahal, FIFA hanya menetapkan tiga agenda KLB, yakni revisi statuta, penyatuan liga, dan pengembalian empat anggota Komite Eksekutif PSSI yang dipecat. 

KLB juga wajib diikuti peserta dari voter Surakarta.(Solo) Namun, lagi-lagi, proses hingga penetapan hasil verifikasinya tidaklah mulus. Hal itu pun berpotensi memancing kemarahan FIFA. Kita berharap FIFA tak memasalahkan persoalan-persoalan itu. Kita berharap elite sepak bola nasional tak menyia-nyiakan peluang terakhir yang diberikan FIFA dalam KLB besok. 

Yang tak kalah penting, publik harus terus mengawal PSSI. Jangan sampai setelah rekonsiliasi, PSSI bukannya diisi orang-orang yang tulus ikhlas membenahi sepak bola Indonesia, melainkan tetap diduduki para petualang yang mementingkan diri dan kelompok.

Editorial MI.com