Terlibat Korupsi, Pejabat Disdik Jabar Disidang


Mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dede Hasan Kurniadi, duduk di kursi pesakitan. Dia didakwa terlibat korupsi Pengadaan alat peraga TK dan SD senilai dengan kerugian negara senilai Rp1,5 miliar. 

Dede Hasan duduk bersama kedua pengusaha yang juga dituduh terlibat dalam kasus tersebut. Keduanya adalah Uu Suryaperdana dan Fadlan yang menjadi rekanan pemenang tender proyek tersebut. Mereka disidang secara maraton di ruang sidang utama Pengadilan Tipikor Bandung, Kamis (7/3/2013). 

"Ketiga terdakwa ini terlibat pengadaan alat peraga TK dan SD dengan kerugian negara Rp1,5 miliar," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rachman Firdaus di Pengadilan Tipikor Bandung. Dede Hasan diduga mendapatkan uang karena memuluskan pemenang lelang kepada 4 perusahaan yang dipegang oleh Uu Suryaperdana yakni PT BNS, Naratas, Trise Manunggal, Priangan Asri. 

Sementara Fadlan bertugas untuk mengurus proses lelang itu hingga menang. "Pada saat mengajukan lelang, tiga perusahaan Uu Suryaperdana menang. Satu perusahaan lagi, Uu meminjamnya kepada orang lain. Sehingga seluruh perusahaan tersebut milik Uu. Sementara yang mengurusnya adalah Fadlan yang juga anak buah Uu," kata Rachman. 

Seharusnya, lanjut Rachman, penyusunan harga penawaran ditawarkan kepada beberapa perusahaan. Tapi dalam kenyataanya, Dede Hasan telah membuat harga survei penawaran kepada dua perusahaan saja. "Dari kerugian negara, seluruhnya uang yang digunakan oleh terdakwa Dede Hasan hanya Rp600 juta. Sementara yang baru mengembalikan adalah Fadlan senilai Rp585 juta," kata dia. 

Mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah dan Tinggi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dede Hasan Kurniadi terancam hukuman 20 tahun penjara."Terdakwa Dede didakwa pasal 2, pasal 3 juncto pasal 18 UU No 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ancaman dari ketiga pasal tersebut maksimal 20 tahun penjara," kata JPU Rachman Firdaus di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Kamis (7/3/2013). 

Rachman menuturkan, proyek revitalisasi sarana dan prasarana tahun anggaran 2011 dengan dana sebesar Rp2,4 miliar itu dialokasikan untuk pengadaan pengembangan alat peraga 85 TK dan SD satu atap di 26 kabupaten dan kota di Jabar. "Beberapa alat peraga tersebut seperti menara kubus, hammer set 6 pasak, kereta balok, wire game 3 line, geo 4 bentuk putar, maze 2 muka, berbagai macam puzzle, rambu lalin dowell, geo sangkar, boneka tangan binatang, boneka mimik wajah, jungkitan 4 anak, ayunan standar, dan mangkok putar," kata dia. 

Dalam pelaksanaanya Dede bersekongkol dengan Uu Surya Perdana untuk memuluskan rencana tersebut. Dede kemudian membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Tapi, HPS yang dibuatnya hanya berdasarkan brosur dan data penawaran CV IPA Abong dan CV Hanimo yang diserahkan terdakwa M. Fadlan. 

"Seharusnya HPS kan ditentukan harga pasaran setempat dan terlebih dahulu dilakukan survei. Tapi terdakwa tidak melakukannya. Bahkan harga pasaran lebih rendah," jelas dia. Harga tersebut, kata Rachman di mark up hingga 100 persen. Selain itu, proses lelang elalui LPSE pun berlangsung seperti sandiwara.[ang]

Editor :W.Sailan