Disdik KBB Lakukan Skala Perioritas.Penerima BSM


Saat ini di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terdapat sekitar 3.000 siswa SMP kategori miskin yang tidak mendapatkan bantuan beasiswa siswa miskin (BSM) untuk tahun 2013. Meski kuota dari pemerintah pusat mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu, namun jumlahnya dinilai belum mencukupi, karena jumlah siswa miskin yang ada di KBB cukup banyak. "Sekitar 3.000 pelajar SMP yang masuk kategori miskin tidak tercover program BSM," tutur Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) KBB, Agustina Piryanti di Batujajar, Jumat (20/9). 

Dijelaskan, secara keseluruhan jumlah siswa tingkat SMP di KBB mencapai 55.568 orang, sekitar 16.000 di antaranya termasuk kategori siswa miskin. Sementara kuota dari pemerintah pusat untuk yang mendapatkan BSM hanya 13.007 siswa saja, dan nominalnya Rp 750.000 per semester per siswa. Mengingat kuota terbatas, pihaknya melakukan penyesuaian data siswa miskin dengan kriteria skala prioritas agar bisa terdata secara akurat siswa mana saja yang benar-benar membutuhkan. "Karena kuotanya kurang, maka kami melakukan skala prioritas," ujarnya. 

Kriteria yang dimaksud, tambahnya, siswa yang orangtuanya penerima kartu perlindungan sosial (KPS), terdaftar sebagai peserta Program Keluarga Harapan (PKH), terancam putus sekolah karena kesulitan biaya, siswa yatim atau yatim piatu, dan siswa yang terkena dampak musibah. Karena ketentuan penggunaan BSM ini sudah ditetapkan, yakni untuk membeli buku dan alat tulis, pakaian dan perlengkapan sekolah, biaya transportasi, uang saku siswa serta biaya kursus atau les tambahan. "Kita akan memberikan bantuan kepada yang benar-benar membutuhkan, serta dilampirkan persyaratan-persyaratan yang menyatakan kalau siswa tersebut membutuhkan bantuan," paparnya. 

Diakuinya, dibandingkan tahun lalu yang kuotanya hanya 9.175, kuota tahun ini mengalami kenaikan. Data tersebut menunjukkan jika jumlah siswa miskin di KBB terus bertambah, walaupun siswa yang mampu juga cukup banyak. Ia berharap, bantuan ini bisa menghindarkan siswa dari putus sekolah karena alasan tidak punya ongkos ke sekolah. Pihaknya pun menurunkan petugas untuk melakukan pemantauan agar penggunaan BSM sesuai peruntukannya. "Karena BSM langsung ditransfer ke siswa, maka perlu peran orangtua untuk mengatur penggunaannya, jangan dipakai untuk kegiatan di luar sekolah. Pokoknya tanggung jawab bersama," tandasnya. 

Agustin juga menuturkan, besaran BSM SMP tahun ini meningkat dari Rp 550.000 menjadi 750.000/siswa. Kemudian siswa SD dari Rp 450.000 menjadi Rp 650.000, dan SMA/SMK menjadi Rp 1 juta yang semula hanya Rp 780.000/siswa. dan Untuk siswa miskin tingkat SD yang menerima BSM di KBB tahun ini mencapai 49.118 siswa, dari total murid 174.854. Sedangkan tingkat SMA ada 6.799 siswa miskin dari total 13.855 siswa, dan SMK dari total siswa 19.561 sebanyak 6.799 siswa mendapatkan alokasi bantuan BSM. 

Kasi Kurikulum SMP Disdikpora KBB, Dadang A. Supardan menuturkan, dari kuota 13.007 BSM yang sudah dicairkan, baru 216 siswa yang datanya sudah masuk ke tim BSM pusat. Sedangkan sisanya masih diverifikasi dan dilakukan input data. Paling lambat pada 25 September seluruh data penerima BSM sudah diserahkan ke pusat. Karena pemerintah pusat menargatken pada Oktober nanti seluruh dana bantuan BSM sudah diterima masing-masing siswa.

Editor  :W.Sailan
Sumber  :KlikGalamedia.