Menepis Isu Negatif di Medsos, BI Jabar Bersosialisasi.


Bandung - Kepala Grup Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar Siti Astiyah menyatakan dukungannya terhadap adanya inisiatif masyarakat anti-hoax. Terlebih, adanya penyebaran berita bohong yang meragukan keberadaan uang rupiah tahun emisi (TE) 2016 yang baru saja diterbitkan.

Menurutnya, sebagai lembaga bank sentral, pihaknya gencar melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Ini dilakukan agar masyarakat luas semakin memahami dan meyakini terkait alat pembayaran transaksi sah.

"Adanya gambar palu arit di rupiah TE 2016 itu hoax. Sebenarnya, itu lambang BI yang dicetak dengan teknik rectoverso," kata Siti usai Sosialisasi dan Edukasi Uang NKRI TE 2016 di markas Kodiklat TNI AD, Senin (16/1).

Untuk menepis isu negatif yang beredar di media sosial, dia menyebutkan keterlibatan TNI dan Polri untuk edukasi dan sosialisasi sesuai arahan Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara.

Dia menjelaskan, logo BI yang dicetak dengan teknik rectoverso itu agar sulit dipalsukan dan tidak merugikan masyarakat dari praktik pemalsuan. Teknik ini menampilkan sebagian logo, tulisan atau gambar pada satu sisi dan menampilkan bagian lainnya pada sisi satu lainnya. Namun, saat diterawang akan tampil bentuk aslinya sebagai satu kesatuan utuh.

"Teknik ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1993 dengan berbagai cara. Untuk TE 2016, BI menggunakan teknik rectoverso yang diterapkan pada rupiah TE 2001. Jadi, huruf B dan I tersisa tinggal lengkungan dan garis lurusnya saja. Teknik ini selain bukan sesuatu yang baru ini juga digunakan pada mata uang Euro, Baht, Won, dan Pound. Jadi, tidak benar bahwa ada logo palu arit di uang rupiah baru," tuturnya.

Tim Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) KPwBI juga menjelaskan pada forum yang melibatkan personel TNI AD sebanyak 500 orang itu. Di antaranya memberikan pengetahuan terkait gambar pahlawan dalam uang rupiah TE 2016. Pemilihan pahlawan tersebut melalui kajian mendalam dan lintas sektor, serta telah sesuai prosedur yang diatur UU No 7/2011 tentang Mata Uang.

Terkait pemilihan warna yang mirip dengan uang negara lain, ini dilakukan menggunakan skema Munsell. Yakni untuk pecahan dengan angka depan sama digunakan warna yang berbeda secara kontras.

Selain itu, dengan gradasi dan kombinasi yang sekilas tampak aneh tetapi secara detil ternyata unik, maka ini akan semakin mempersulit para calo rupiah palsu, untuk melakukan pekerjaan kotor mereka.

"Dan terkait isu rupiah tidak dicetak Perum Peruri, kita pastikan pencetakan uang ini tetap dilakukan Perum Peruri. Pencetakan rupiah harus dilakukan di dalam negeri dengan menunjuk BUMN sebagai pelaksana pencetakan sesuai UU tentang Mata Uang Pasal 14 yang mengatur bahwa seluruh rupiah dicetak di BUMN, yaitu Perum Peruri," jelasnya.

Sedangkan Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah KPwBI Jabar Mikael Budisatrio mengatakan, dengan beredarnya uang rupiah TE 2016 ini diharapkan tindak pidana pemalsuan mampu ditekan.

Pasalnya, uang baru disebutkannya relatif tidak bisa ditiru. Dengan dilengkapi 9-12 unsur pengaman yang lebih canggih, kata dia, uang yang secara resmi diluncurkan pada 19 Desember 2016 itu relatif lebih sulit dipalsukan.

Fitur keamanan tersebut antara lain tanda air/watermark, benang pengaman, mikroteks dan miniteks, gambar tersembunyi/latent image, tinta berubah warna pada logo BI, gambar saling isi/rectoverso, kode tunanetra/blind code, visible dan invisible ink, cetak efek pelangi/rainbow feature, cetak kasar apabila diraba/intaglio, serta nomor seri yang dibentuk asimetris.

"Ciri keaslian uang rupiah ini sebenarnya dapat dikenali dengan mudah. Yakni dengan cara 3D (dilihat, diraba, diterawang). Selain itu, karena rupiah ini merupakan simbol NKRI, terhadap uang ini kita lakukan 3K (kudapat, kusayang, kusimpan)," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Umum Kodiklat TNI AD Brigjen TNI M Effendi merespons positif langkah yang dilakukan KPwBI Jabar ini. Apalagi, sosialisasi dan edukasi ini dilengkapi simulasi yang memperjelas audiens.

"Dengan simulasi ini, kita tidak lagi tergiring isu yang beredar di media sosial," ucapnya. [ito]

0 comments:

Poskan Komentar